MAAF TUHAN
Maaf, Tuhan
Kupinjam penglihatanMu sebentar saja
Sekadar untuk melihat seberapa pantasnya durjana itu menjadi kaya,
dan melihat seberapa tegarnya pahlawan itu menjadi miskin
Maaf, Tuhan
Kupinjam pendengaranMu sebentar saja
Sekadar untuk mendengar doa-doa mereka yang telah Kau beri kelebihan,
Dan mendengar caci maki mereka yang telah Kau jadikan kekurangan
Maaf, Tuhan
Maaf atas kelancanganku mempertanyakan ketimpangan ini
Bukan salahku sepenuhnya atas keterbatasan akalku mengukur kuasaMu
Aku hanyalah insan yang dipenuhi iri hati, meski,
semoga, tak cukup besaran itu tuk membuatku menjadi dengki
Maaf, Tuhan
Berkali ku mengadu, berkali pula ku perbesar dosa-dosaku
Mengambil hakku yang tak mungkin kuraih lewat cara yang halal, begitu alasanku
Tapi itu tetap dosa bukan?
Namun tak pernah aku berharap Engkau memakluminya, Tuhan
Hukum aku untuk itu… Atau mudahkan jalanku agar dosa tidak menjadi sebuah pilihan
Maaf, Tuhan
Jikalau aku berucap atau berdoa layaknya sepasang teman yang sedang berdialog
Aku faham kalau setiap tanya, doa,
dan keluh kesah hanya Engkau jawab melalui Bait-bait Suci yang telah tertulis
Sesekali lewat isyarat, mungkin, yang terkadang lepas dari perhatian dan nalarku
Maaf, Tuhan
Aku tidak bisa membenciMu sepenuh hatiku
Seperti halnya cinta yang belum pernah penuh di hatiku untuk Engkau
Aku hanya insan seperti kebanyakan,
yang kelak akan saling membakar dan terbakar di nerakaMu
Maaf, Tuhan…

No comments:
Post a Comment