Monday, October 15, 2007

MAAF TUHAN

Maaf, Tuhan

Kupinjam penglihatanMu sebentar saja

Sekadar untuk melihat seberapa pantasnya durjana itu menjadi kaya,

dan melihat seberapa tegarnya pahlawan itu menjadi miskin

Maaf, Tuhan

Kupinjam pendengaranMu sebentar saja

Sekadar untuk mendengar doa-doa mereka yang telah Kau beri kelebihan,

Dan mendengar caci maki mereka yang telah Kau jadikan kekurangan

Maaf, Tuhan

Maaf atas kelancanganku mempertanyakan ketimpangan ini

Bukan salahku sepenuhnya atas keterbatasan akalku mengukur kuasaMu

Aku hanyalah insan yang dipenuhi iri hati, meski,

semoga, tak cukup besaran itu tuk membuatku menjadi dengki

Maaf, Tuhan

Berkali ku mengadu, berkali pula ku perbesar dosa-dosaku

Mengambil hakku yang tak mungkin kuraih lewat cara yang halal, begitu alasanku

Tapi itu tetap dosa bukan?

Namun tak pernah aku berharap Engkau memakluminya, Tuhan

Hukum aku untuk itu… Atau mudahkan jalanku agar dosa tidak menjadi sebuah pilihan

Maaf, Tuhan

Jikalau aku berucap atau berdoa layaknya sepasang teman yang sedang berdialog

Aku faham kalau setiap tanya, doa,

dan keluh kesah hanya Engkau jawab melalui Bait-bait Suci yang telah tertulis

Sesekali lewat isyarat, mungkin, yang terkadang lepas dari perhatian dan nalarku

Maaf, Tuhan

Aku tidak bisa membenciMu sepenuh hatiku

Seperti halnya cinta yang belum pernah penuh di hatiku untuk Engkau

Aku hanya insan seperti kebanyakan,

yang kelak akan saling membakar dan terbakar di nerakaMu

Maaf, Tuhan…

Jakarta, 2006 – 2007

No comments: