Monday, December 24, 2007
I didn't mean to tell the story. But, the situation was burning me up to my brain. Couldn't handle it anymore, so it was spoken with tears and bla bla bla...
Why should I do such bargain with my father?
I knew already that he can't afford such thing...
I'm so sorry, Father...
I love you, but it was the only thing that ever crossed my mind back there.
I'm sorry, Mother. Ur words was a miracle, and still... in a way that I don't understand why.
I always try to think of it as a funny thing that I have heard ever. But Mom, ur words has closed the path I need.
I love u as well, Mom. Sometimes little things that we're not aware of, means bigger than we could ever imagine. And those little things happens to me oftenly. Sometimes it comes from you, sometimes it comes from me, and sometimes it just comes from both of us at the same time.
U're the woman I love, Mom. Perhaps since I have no other woman to love with :">
Despite my miseries, I love u, Mom.
Saturday, December 15, 2007
Monday, October 15, 2007
MAAF TUHAN
Maaf, Tuhan
Kupinjam penglihatanMu sebentar saja
Sekadar untuk melihat seberapa pantasnya durjana itu menjadi kaya,
dan melihat seberapa tegarnya pahlawan itu menjadi miskin
Maaf, Tuhan
Kupinjam pendengaranMu sebentar saja
Sekadar untuk mendengar doa-doa mereka yang telah Kau beri kelebihan,
Dan mendengar caci maki mereka yang telah Kau jadikan kekurangan
Maaf, Tuhan
Maaf atas kelancanganku mempertanyakan ketimpangan ini
Bukan salahku sepenuhnya atas keterbatasan akalku mengukur kuasaMu
Aku hanyalah insan yang dipenuhi iri hati, meski,
semoga, tak cukup besaran itu tuk membuatku menjadi dengki
Maaf, Tuhan
Berkali ku mengadu, berkali pula ku perbesar dosa-dosaku
Mengambil hakku yang tak mungkin kuraih lewat cara yang halal, begitu alasanku
Tapi itu tetap dosa bukan?
Namun tak pernah aku berharap Engkau memakluminya, Tuhan
Hukum aku untuk itu… Atau mudahkan jalanku agar dosa tidak menjadi sebuah pilihan
Maaf, Tuhan
Jikalau aku berucap atau berdoa layaknya sepasang teman yang sedang berdialog
Aku faham kalau setiap tanya, doa,
dan keluh kesah hanya Engkau jawab melalui Bait-bait Suci yang telah tertulis
Sesekali lewat isyarat, mungkin, yang terkadang lepas dari perhatian dan nalarku
Maaf, Tuhan
Aku tidak bisa membenciMu sepenuh hatiku
Seperti halnya cinta yang belum pernah penuh di hatiku untuk Engkau
Aku hanya insan seperti kebanyakan,
yang kelak akan saling membakar dan terbakar di nerakaMu
Maaf, Tuhan…
BEOS, SEBULAN INI
Masih saja kita jalani
Manis cumbu yang begitu meluruhkan hati
Hingga khilafku izinkan dosa membalur raga
Aku tahu kita berdua salah
Namun kesadaran seakan memudar setiap kali kau dan aku berdekapan
Dan aku tahu nurani membenci
Namun gairah menyatakan hal berbeda
Memperhitungkan segala berdasarkan logika walau tak jua ingin lepaskan kamu
Tak ubahnya uang logam dengan dua sisi yang tengah berputar
Tak pasti kapan dan sisi mana yang
Satu hal yang pasti…
Aku tak dapat membayangkan wanita lain saat bersamamu
Dan aku cuma bisa cemburu
Berusaha sebisa mungkin meredupkan api yang membakar hati
Aku hanya bisa diam
Sementara isi kepala ramai berkecamuk lalu sepi silih berganti
Dan, masih saja aku ikuti
Alur-alur jalan kehidupan yang kau tunjukan padaku
Meski belum lagi selesai denah yang kau buat itu
Hingga mungkin saja aku dan kamu tersesat lebih jauh
Kembara Angan di Meja Kantor
DARI CERITAMU SEMALAM
Menggemakan celotehmu di segenap ruang
Adalah simphony terindah yang pernah kudengar
Lenyap lah segala sunyi
Bersenandung riang lah rongga benak
Melukiskan raut wajahmu di perhentian pandang
Adalah lukisan terindah yang pernah kulihat
Terabaikan lah segala jemu
Merenda warna-warni lah kamar hati
Tapi kini simphony itu t’lah senyap
Celotehmu tak lagi kudengar ceria dan manja
Dustamu lalu teramat manis… Andai aku lebih mampu menerima kejujuranmu
Dan kini lukisan itu pun t’lah pudar
Binar bola mata itu tak lagi nampak pada raut wajahmu
Topengmu lalu teramat elok… Andai aku lebih mampu menerima kepolosanmu
Yang kufahami, bahwa kita pernah bersama
Meski, bagiku, masa itu tak cukup lama
Yang kusadari, bahwa kita pernah saling nikmati
Hingga dosa itu hampir saja lumur di diri
Terimakasihku tulus untuk pahit-manis kenang semasa kita berdua
Setulus rasa sayang yang masih saja tersisip di setiap doa
Maaf bila kesadaranku masih saja tak mampu fahami kegelapan ini
Teruntuk perempuan kelahiran bulan ini yang kusayangi
LELAKI INI 1
Lelaki ini bukan pencinta sejati
Rindunya sudah di ambang dengki
Tipu daya meluruhkannya satu ketika
Memerih luka ditetesi garam airmata
Lelaki ini, sekalipun begitu, tak sanggup menghindari kenyataan
Bahwasannya cinta telah membuatnya begitu tertahan
Lelaki ini tak hendak pulang ke masa silam
Namun arah menuju kemudian nampak kelam
Lelaki ini termangu berpangku tangan
Menatapi layar monitor menerawang kenangan
Lalu…
Lelaki ini mencipta bait
Sambil bergumam,… “What a shit!?”
1 Agustus 2006
LELAKI INI 2
Tak mudah menjalani hidup dengan menjadi lelaki ini
Sama tak mudahnya dengan menjalani hidup dengan menjadi dirimu sendiri
2 Agustus 2006
simple asking
Kutahu kau bukan milikku
Tapi tak mengapa bukan, jika aku berikan apa² yang ingin kuberikan kepadamu? Bahkan jika itu adalah cinta yang tulus dariku?
Tak mengapa lah jika dirimu tak bisa memberi balas cinta yang sama terhadapku
Menyadari kau bersenang hati menerima cintaku, kurasa cukup untuk juga menyenangkan hatiku…
Maaf untuk pamrihku yang satu ini… Tersenyumlah, meski sesaat, hanya untukku…
30 Mei 2006
Happens many times
Pernahkah kau merasa, mencintai orang yang salah kemudian kehilangan dirinya?
Adakah kau merasakan kesedihan saat dia pergi, padahal kau tahu ia bukan orang yang tepat untukmu?
Inikah yang terjadi padaku?
Oh! Tidak!
Aku tak pernah merasa mencintai orang yang salah, sebab itu lah aku merasa kehilangan saat orang² yang kucintai pergi.
Sebab mereka layak untuk kucintai, karakter² yang memang kuinginkan tuk menjadi bagian daripadanya.
Bahkan jikalau mereka tak berkehendak tuk menerima cintaku sedikit pun, mereka tetap saja layak untuk dicintai, meski bukan daripadaku.
Seperti itu lah aku, bukan demi mencoba, namun kehendak hati jua sungguh menginginkan tuk memberikannya.
Cinta.
Bahkan jikalau dirinya tak bekehendak menerima cintaku sedikit pun, aku
Seperti itu lah kisah hidupku, mencoba memahami makna sebuah kerelaan… Ah! Omong kosong! Ya! Aku pamrih.
Karena aku masih berharap dia bersenang hati menerima cintaku…
Karena dengan tersenyumnya lah aku bisa merasa bahagia… Dan kebahagiaan semacam itu, meskipun sedikit, adalah pamrih pada diriku.
Sungguh. Mereka yang pernah mengisi ruang hatiku, adalah mereka yang layak untuk dicintai… Bahkan tentang dia yang masih saja berada di sini, di ruang hati ini.
Sedih. Mengetahui mereka telah pergi satu per satu. Pergi, tanpa sempat kudalami isi hatinya yang telah kutaburi kasih sayangku… Bahkan tentang dia yang memang juga akan segera pergi, meski sisakan satu kenang di sini, di ruang hati ini…
Dan aku kehilangan… Bahkan sebelum semua ini jelas² berakhir…
29 Mei 2006
SAAT SEPI MENJAMAH
Too much love will kill you… Some people say…
Mungkin…
Tapi satu hal yang kupelajari, dan semoga aku mampu menjalani…
Tak
Satu hal yang pasti, aku (akan) menjadi kosong saat (apabila) ia pergi dan membawa sirna romansa yang telah kubentuk dengan segenap jiwa.
Akan kusisakan sedikit lagi untukku saja agar aku tetap sadar, bahwa sekalipun dengan kepergiannya, aku masih memiliki diriku sendiri yang juga butuh tuk kujaga dan kurawat…
Dan dalam hatiku, lahan yang masih patut tuk kutaburi benih² kasih dan sayang. Memperluasnya lagi dengan puing² asa pernah rapuh yang kubangun menjadi pagar dan istana kembali.
Menghiasnya lagi dengan helai² cita pernah terurai yang kutenun menjadi benang dan kain kembali.
Dan semoga jika benar waktunya, adalah miliknya jua tuk ia menuai kesemuanyaThursday, July 14, 2005
frontier
Menarikan jemari di atas papan ketik komputer milik kantorku…
Aku mungkin tak kan pernah menjadi penulis terkenal, tapi bathin semoga terpuaskan demi seribu rasa yang datang silih berganti.
Aku mungkin tak punya nama besar, titel yang dapat dibanggakan, atau pun kerabat dan teman dekat dengan status sosial kelas atas yang dapat kujadikan jaminan masa depan.
Tapi aku punya pembaca seperti dirimu, dan aku masih punya teman yang masih sudi berbagi suka dan duka… Maaf, doa dan terimakasihku bertautan untuk kalian dan mereka yang ikhlas mengenalku.
Ambisiku, obsesiku, cinta sejoliku… Mungkin sangat lah sedikit yang pernah, tengah dan akan kujalani. Bahkan terkadang perih.
Tapi aku punya daya juang, aku punya kemampuan bertahan yang bagiku sendiri merupakan keajaiban.
Bagiku;
Airmata adalah pelembut hati yang mampu menyeimbangkan emosi dalam diri.
Senyum adalah penenang jiwa yang mampu menyejukan panasnya amarah.
Tak perlu benar aku berteriak bingar atau tertawa keras² demi mengungkap diri.
Sesungguhnya hati mampu berbicara lebih baik daripada seribu bahasa, dialek, maupun kultur budaya.
Penolakan biar kuanggap sebagai koreksi, kritik dan saran untukku.
Caci maki biar kuanggap sebagai kokok ayam pagi yang membangunkanku dari mimpi.
Maaf, doa dan terimakasihku bertautan untuk kalian dan mereka yang ikhlas menyadarkanku.
